Menabur Hikmah Menuai Dosa


Mungkin kita merasa aneh dengan judul di atas. atau mungkin terkesan lucu, karena anggapan jika hikmah yang ditanam akan berbuah dengan hikmah juga? kita lihat sama-sama aja!
Menghias diri dengan segala kebaikan adalah impian semua manusia. Baik melalui sikap, tutur kata, atau yang lainnya. Bahkan menulis juga media untuk saling bertukar wawasan, pemahaman baik itu tentang kata hikmah, fiqih, aqidah atauberamar makruf nahi mungkar, dll. Entah kita sadari atau tidak, semuanya itu tidak lain untuk mengajak kepada Allah, riya`, sehingga memberikan citra baik bagi diri sendiri atau yang lainnya. Bagaimana kalau sudah begini?
Ketakutan yang sangat besar masih menyelimuti diri ini, ketika tulisan-tulisan yang akan saya share atau saya sampaikan ternyata tujuannya tidak lain hanya didasaririya`, bahkan terkadang niat hati ingin beramar makruf nahi mungkar, sedangkan diri sendiri masih jauh dari apa yang di sampaikan. ibarat kata: cermin kotor, tak mungkin bisa dipakai untuk berkaca. Mengapa harus cermin
?

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّ اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: المُؤْمِنُ مِرْآةُ المُؤْمِنِ. رواه أبو داود.


Rasulullah saw. bersabda: “seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain”. HR. Abu Dawud.

Pantaskah kita sebagai cerminan bagi orang lain? “Saya sendiri masih menangis, jika diri yang penuh dosa ini, adalah cermin bagi orang lain? apakah pantas?”. Tidak jarang beberapa tulisan kita, tak lepas dari sifat doktrin, dikte, atau hanya sekedar share saja, dll.
Sebelum kita memulai sesuatu, terlebih menulis yang sifatnya amar makruf nahi mungkar selayaknya kita semua memegang kunci, sebagaimana firman Allah:


أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ


”Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri” (QS. 2 : 44)



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَالاَتَفْعَلُونَ.كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَالاَتَفْعَلُونَ


”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. (QS. 61 : 2-3)

Meskipun menyeru kepada kebaikan, baik kepada keluarga, sahabat sangat diajurkan Allah, sebagaimana firmannya:


وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ اْلأَقْرَبِين


”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, (QS. 26 : 214)

kita juga harus tahu kode etik dalam penyampaian. tak lantas bersifat ekstrim, karena ”maaf” Ekstrim justru malah mencitrakan Islam yang sempit.Koreksi diri hendaknya terus kita lakukan. mengapa?


عَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2 : 216)

Kembali lagi. Nah, sekarang pertanyaanya: apa benar, yang kita sampaikan sudah sesuai dengan diri kita? apakah kita sendiri sudah melakukan amalan dengan baik? jika belum, mengapa menyuruh orang lain?lantas bagai mana?.
ibnu Abbas radhiyallahu `anhu—dalam kitab al-Manhajus Sawiy karangan Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith—berkata: “kalau begitu, mulailah beramar makruf nahi mungkar dari dirimu sendiri terlebih dahulu”.

Kemudian lepas dari hal di atas, Saya mohon maaf, kepada segenap teman-teman, jika dalam tulisan ini, ternyata menyinggung perasaan teman-teman. saya tidak bermaksud seperti itu. karena ini adalah tulisan yang lahir dari ketakutan diri, yang beberapa hari ini sering saya alami. Agar segala yang sayashare tidaklah Menabur Hikmah dan suatu saat nanti Menuai Dosa karena tidak selaras dengan diri sendiri, sungguh bukan itu yang saya harap,


نَعُوْذُ بِا للهِ مِن ذَلِـك .

Untuk itu, segala konstruktif untuk kesempurnaan ini, akan senantiasa saya sambut dan selalu saya harapkan.

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ اْلإِصْلاَحَ مَااسْتَطَعْتُ وَمَاتَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ


”Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. (QS. al-Hud: 88)

♫♪((¯`’•.¸* Bila Semua *¸.•’´¯))♫♪

Dengan apa akan aku gambarkan suasana yang meruang sudut – sudut sempit jiwa ? apakah harus aku sapukan kuas dari warna bias pelangi, agar sedikit terlihat indah dan tidak terkesan gambaran rasa yang jemu. Atau akan aku berikan warna yang apa adanya, biar terlihat natural dan alami walau hasilnya penuh dengan tabiat amarah. Bahkan mungkin tidak aku warnai sama sekali, biar tetap kosong berhenti pada titik terakhir pelabuhan rasa.

Istana pasir yang sempat roboh berulang kali. Dengan susah dan perih meraja ku usaha bangun dan menata ulang kembali. Dan roboh untuk ke sekian kalinya lagi. Entah mengapa ? tak sempat terfikir akal sehatku pada ahirnya engkau kemabli lagi untuk meruntuhkanya. Kepercayaan yang menjadi pondasi istana pasirku, harapan menjadi lebih baik yang menjadi dinding istana pasriku, dan impian tentang sebuah perubahan yang menjadi atap istana pasirku. Olehmu sendiri itu semua sirna tak berarti.

Apa sebenarnya arti dari sebuah komitmen atas pengakuan sebuah janji ? apa arti sesungguhnya dari janji untuk tidak mengulang salah yang sama berulang – ulang ? dan apa arti maaf yang seribu kali terucap saat berbuat seribu kesalahan ? apakah itu hanya sekedar kiasan atau metafora kata – kata saja, atau itu sebatas ungkapan teoritis belaka, bahkan apakah itu tak lebih dari karangan fiktif seperti karya sastra.

Semestinya engkau tahu mana jalan yang memang itu benar dan baik untuk engkau lalui, sebuah jalan yang tidak menyebab rasa ingin beranjak pergi. Seharusnya kejadian yang telah lalu dapat memberikan pelajaran penting dan berharga. Dan selayaknya semua kesalahan yang pernah dilakukan dapat menjadi kesadaran untuk tidak lagi mengulangnya.

Pernah aku bicara waktu itu tentang persoalan yang menyebab aku tak nyaman, siksa batin yang merayapi. Kemudian tentang jenuh yang sempat membuat aku benar – benar ingin pergi saja. Kubicarakan semua itu . Harapan agar ada jalan keluar dan solusi. Namun engkau tetap saja ….!!!! Hingga aku berusaha untuk melupa lupa tentang itu semua dan ku coba menata ulang kembali rasa yang berserakan. Dan sekarang …. Engkau berikan aku lagi…???????

Mungkin kata – kataku sudah kian tak berarti untuk kau ikuti, perasaan yang aku tata berulang kembali tak dapat engkau hargai. Imbalan rasa nyeri hati yang aku terima. Amarah dan rasa enggan yang timbul kuat menguasai.

Sekarang semuanya terserah padamu …..!!!!! akan aku coba untuk diam dan tak lagi mengingatkan sesui inginmu….

Lalu jika nanti aku lebih memlih untuk diam dan berhenti pada sebuah titik akhir. Maka jangan kau pinta aku lagi untuk kembali menata pecahan – pecahan rasa yang berserakan. Biarkan aku sendiri ….. !!!!!!

♫♪((¯`’•.¸* Bukan Harapan Tersimpan *¸.•’´¯))♫♪


Bukan harapan tersimpan dalam
Tentang rasa pernah meraja
Namun jiwa telah meleleh
Melebur dalam waktu yang menghapus mimpi tinggi
Hingga titik perhentian berlabuh


Akhirnya belajar pada kesadaran matahari
Bahwa ketika cinta tak memberi kesempatan merajut bersama
Bukan menjadi alasan untuk membenci
Juga ketika raga tak dapat memiliki keutuhan rasa
Bukan menjadi alasan untuk pergi menjauhi


Justru hati ini terbimbing agar selalu ada untukmu
Saat engkau butuh tempat sekedar untuk melepas peluhmu
Bahkan saat sedih mencoba mengusik rasa nyamanmu
Atau saat pilu berusaha merayapi menguliti hatimu


Akan kau dapati bahagia dalam keindahan garis guratan pelangimu
Saat engkau mewarnai langit dengan canda dan keceriaanmu
Saat engkau selalu tersenyum bersama embun dan senjamu
Ini bukan tentang harapan tersimpan dalam
Bukan pula tentang rasa yang menggelora asmara
Tapi karena engkau telah hidup dalam dirinya